Kesalahan yang fatal yang sering di lakukan oleh kebanyakan manusia ialah ridha dengan kemauan dan keinginan nafsu, dan lalai dengan nafsu.
Apa Hakikat dari Nafsu itu?
Nafsu itu ialah saat sedang marah persis seperti harimau, jika sedang musibah tidak berbeda dengan anak kecil, bila tengah kaya (jadi kaya) tindakannya seperti firaun, jika sedang lapar persis seperti orang gila, jika sedang kenyang seperti monyet yang menepuk-menepuk dada, dan menantang kesana dan kemari.
Benarlah kata pepatah bijak, Nafsu itu ibarat keledai jika kenyang menyepak dan jika lapar menjerit-menjerit dan merintih, namun bila seorang telah di kuasai oleh nafsu dia akan lupa siapa hakikat nafsu.
Obat nafsu ada dua:
1.Puasa, sebab nafsu dengan menahan makan dan minum dia akan menyerah dan kalah.
puasa yang dimaksud di sini yaitu puasa dengan menjaga semua ketaatan anggota badan, dhahir atau pun
batin, dan menjauhi semua larangan maksiat dhahir anggota dan hati.
2.Tidak pernah ridha dengan keinginan nafsu (selalu berburuk sangka dengan keinginan nafsu diri sendiri)
oleh karena itu kita harus senantiasa berhati-hati dalam menghadapi nafsu jangan sampai lengah sebab
nafsu seperti firman allah swt:
۞ وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Sesungguhnya nafsu itu benar2 selalu memerintah berbuat kejahatan melulu. (Surat Yusuf 53).
Di riwayatkan dari orang shaleh Ahmad bin Arqam al Balkli rahimallahuallahutaala,
Sungguh aneh nafsu ku, selalu mengajakku pergi ke medan perang (fi sabilillah) ini, dhahir memang baik, tapi beliau terus berburuk sangka dengan nafsu. kata beliau di dalam hati sambil melawan nafsu.
Allah berfirman sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan perbuatan jahat, terus beliau berbisik dalam hatinya, ini (ajakan nafsu) tidak mungkin benar sebab dibalik semua ini terkandung niat jahat, beliau selalu tidak pernah ridha dengan ajakan nafsu, barangkali, ia (nafsu) merasa kesepian dan ingin bertemu dengan orang banyak, kemudian ia berharap namanya akan menjadi terkenal dan dikatakan sebagai seorang pemberani, pahlawan sabilillah. Selanjut nya ia (nafsu) berharap sepulang dari medan perang disambut oleh para tokoh-tokoh negeri sebagai pahlawan, sebagai seorang martir dan dimuliakan, maka dalam hati aku berkata kepada nafsu, mari kita (nafsu) berangkat ke medan perang tetapi beliau mengelak dengan semua keinginan nafsu dengan tidak memasuki kota, jika nanti rombongan pulang memasuki kota, kita harus pulang mengambil jalan lorong, sebab jika kita pulang jalan kota kita akan disambut sebagai mujahidin fi-sabilillah dengan taburan bunga dan bermacam-macam hadiah, marilah kita berperang tetapi jangan sampai kita ketemu dengan orang-orang yang kita kenal, katanya di dalam hati. Ternyata nafsu menyambut ajakan ku, dan aku tambah semakin curiga , apa maksud semua ini??? aku terus berpegang teguh dengan firman tuhanku! Sesungguhnya nafsu itu memerintahkan berbuat kejahatan, maka aku berkata dalam hatiku akan berperang, masuk dalam medan perang tanpa memakai baju besi (baju perang), agar musuh cepat membunuh kita, sehingga menjadi orang yang pertama mati syahid.
Jawab nafsu, meskipun begitu aku tetap ingin perang dan mati syahid, hal ini merupakan sesuatu keanehan, nafsu yang biasanya mendorong melakukan kejahatan, kini justru mengajak ku berbuat kebajikan, namun begitu aku tetap mencurigainya, lalu aku menyebut hal-hal yang membuatnya segan, diantaranya aku tidak akan mengambil harta rampasan perang.
Ternyata nafsu menyanggupinya, dengan bermaksud jahat, kemudian saidina Ahmad bin Arqam berdoa:
"Ya allah berilah aku peringatan mengapa nafsuku mengajak ku berbuat kebaikan, aku mencurigainya. dan tidak percaya, karena aku lebih percaya dengan firman mu ; bahwa nafsu senantiasa mengajak ku dalam berbuat kejahatan, tetapi mengapa kini nafsu mengajak ku berbuat kebajikan dan aku mencurigai nya..
Maka Allah membuka hijab seolah-olah nafsu berkata :
Wahai Ahmad engkau setiap kali membunuh ku karena engkau tidak meneruti keinginanku dan selalu melawan ku, andai engkau jadi berperang fi-sabilillah, maka aku hanya mati sekali dan akan terlepas dari siksaan ( kurungan ) mu, dan aku akan masyhur sebab aku mati syahid,dan aku jadi orang yg di segani dan di hormati sepanjang masa, tapi kini aku tiap hari mati dengan sebab engkau selalu melawan keinginan-keinginan ku, maka dengan tekad yang kuat Ahmad bin Arqam tidak ikut berperang sebelum punya niat yang ikhlas dan hasan.
Wahai saudaraku, beginilah nafsu kita, hakikatnya selalu mengajak untuk berbuat maksiat walau dhahir nya baik, namun di balik itu pasti ada maksiat nya. Oleh sebab buruk nya nafsu maka patut lah kita, jangan pernah lalai dari nasfu dan jangan pernah riza dengan keinginan nafsu sbb nafsu itu selalu memerintah kepada keburukan , pangkal maksiat itu ridha dan lalai dari nafsu.
Waallahhu a,lam